Senin, 19 Maret 2012

Impor Gula Putih Negara Indonesia


JAKARTA: Pemerintah tetap akan mendatang gula bahan baku gula (raw sugar) impor tahun ini sebanyak 240.000 ton, untuk memenuhi kekurangan pasokan gula selama Mei 2012 sebanyak 220.000 ton.
Wakil Menteri Pertanian Rusman Heriawan mengatakan rencana impor gula mentah itu untuk memenuhi kebutuhan gula konsumsi di Tanah Air selama satu bulan (Mei 2012).
“Impor ini, ukuran itu untuk konsumsi satu bulan, kekurangan kebutuhan konsumsi gula sekitar 220.000 ton, sampai nanti dipastikan musim giling tebu mulai Mei mendatang,” ujarnya seusai acara Pengukuhan Pengurus Pusat Masyarakat Perbenihan dan Pembibitan Indonesia Periode 2012-2016, hari ini.
Dia menjelaskan jika sudah memasuki musim giling tebu, maka tidak lagi berbicara soal impor. “Pada saat rapat Dewan Gula Inodnesia, saya memberikan warning [peringatan] jangan sampai impor terjadi setelah Mei [2012]. Jadi, manajemen waktu [impor] juga penting.”
Menurutnya, keputusan pemerintah mengimpor gula mentah (bukan gula kristal putih), karena pemerintah menginginkan ada nilai tambah dengan memberikan pekerjaan bagi pabrik gula di Tanah Air. “Kan kalau mau tidak repot sebenarnya yang diimpor gula kristal putih saja bukan raw sugar.”
Wamentan Rusman memperkirakan ada kapasitas tidak terpasang (idle capacity) dari pabrik gula, karena pasokan tebu yang masuk ke pabrik masih sedikit, sehingga dapat memanfaatkan raw sugar impor tersebut. “Itu kompromi, dari pada gula putih ya lebih baik raw sugar, karena ada nilai tambah.”
Kekurangan pasokan gula konsumsi di Tanah Air pada tahun ini sekitar 220.000 ton. Gula mentah sebanyak 240.000 ton itu setelah diolah akan menjadi 220.000 ton gula kristal putih.
Dia menegaskan keputusan volume impor raw sugar 240.000 ton itu sesuai dengan kekurangan gula konsumsi sebanyak 220.000 ton. “Nanti kalau akan kita bicara impor gula lagi setelah musim giling tebu berakhir untuk memastikan pasokan yang ada dapat memenuhi kebutuhan.
Rusman menuturkan pihaknya belum mengetahui perusahaan mana saja yang akan mengimpor raw sugar tersebut. Namun, importir itu harus memenuhi kriteria yang telah ditetapkan yaitu importir itu harus memiliki pabrik gula dan kapasitas untuk mengolah raw sugar impor tersebut.
Persyaratan lain, lanjutnya, importir harus mendistribusikan gula impor itu (setelah diolah) ke Indonesia bagian timur. “Pemberian izin kepada siapapun itu, dua hal itu harus dipenuhi.”
Kekurangan pasokan gula sebanyak 220.000 ton itu akan dikonversikan menjadi 240.000 ton raw sugar, karena pemerintah akan mengimpor dalam bentuk bahan baku gula.
Kebutuhan gula konsumsi langsung sekitar 220.000 ton per bulan. Musim giling tebu akan dimulai pada Mei mendatang, kendati ada beberapa pabrik gula di Sumatra yang sudah mulai giling saat ini, tetapi volume masih rendah.
Dewan Gula Indonesia telah melakukan rapat evaluasi stok ahir gula pada tahun ini dan kebutuhan sampai Mei 2012.
Berdasarkan DGI, katanya, ketersediaan gula sampai 31 Mei 2012 ini masih mencukupi kebutuhan sampai dengan April mendatang.
Menurutnya, stok gula kristal putih per 31 Januari tahun ini sebanyak 530.578 ton. Sementara itu, produksi gula akan mulai pada Januari-April untuk pabrik gula di Sumatra sekitar 68.354 ton. Oleh karena itu, persediaan gula sampai dengan 31 Mei 2012 sebanyak 598.932 ton.
Adapun, kebutuhan konsumsi gula kristal putih (gula konsumsi masyarakat) pada 1 Januari-31 Mei 2012 sebanyak 860.000 ton, sehingga akan ada kekurangan pasokan 261.068 ton.
Impor raw sugar tersebut bertujuan agar dapat diolah lagi di dalam negeri oleh pabrik gula, sehingga memberikan nilai tambah.
Ketua Dewan Gula Indonesia Suswono mengatakan importir raw sugar itu bisa dari pihak swasta maupun BUMN.
Mentan Suswono menegaskan periode importasi raw sugar harus sudah selesai pada April 2012, karena mulai Mei mendatang sudah mulai giling tebu.
Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (DPN APTRI) Soemitro Samadikoen mengatakan pihaknya tidak sepakat dengan impor gula baik gula kristal putih maupun raw sugar. Namun, pasokan di dalam negeri terbatas, sehingga harus dipenuhi dari impor.
“Saya menentang impor, hari ini kalau ada impor harus memberi nilai tambah dan harus dijual di Indonesia bagian timur. Kami bukan mendukung [impor], tetapi asal didistribusikan di wilayah timur Indonesia,” jelasnya.(sep/rsj)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Page Navigation byhttp://creativityforindonesia.blogspot.com

Artikel Via Email

Dapatkan Update Artikel B-digg Via Email
Jika anda suka dengan artikel yang ada di blog ini, silahkan untuk berlangganan artikel blog ini via email gratis. Isikan alamat email anda di bawah ini!!